Oktober 24, 2012

MAINSTREAM ^_*



Kadang gemes bgt kalau kita punya pendirian dan di counter sama org lain hanya karena pendirian kita itu ngga biasa.
Kejadian sama gw yaaa karena saya melahirkan anak pertama dlu dengan Caesar, semua org (termasuk suami) berpendapat kalau melahirkan lewat vaginal after Caesar akan beresiko, pdhl hemat saya ya, melahirkan Caesar yg berulang lebih beresiko dan jelas lebih sakit pasca operasinya kalau dibandingin dengan melahirkan VBAC (Vaginal Birth After Caesar). Banyak yg mungkin mikir saya ini ngeyel, nanti klo ada apa2 kasian sama bayi nya khan. Ya Alloh do respect ya what I want by providing me some courage to do my best to my life. Rasanya iri baca blog2 yg ibu2 cerita suami-keluarga semua mendukung dia untuk melahirkan secara gentle birth. Bahkan sampai rela2 cari bidan yg bisa melahirkan gentle birth smp ke klaten hiks. That pleasure wasn’t mine T_T
Hal tidak mainstream kedua versi saya adalah ngotot mau memberikan ASI ke anak saya smp 2th. It was a good thing though. But many people still looking at me like they said “doohh..it was a great effort for you are you sure you have a benefit from that” kalau melihat saya berjuang memeras ASI dan berusaha selalu disiplin pulang kntr demi mengejar stok ASI anak saya. Mereka pikir saya tidak terlalu mendapat benefit dr hal yg saya lakukan ini. Menurut saya ASI adalah hal dasar terpenting yg seorang ibu bisa berikan ke anaknya. Kasih sayang, perhatian, waktu, semua saya curahkan untuk anak saya saat saya berusaha memeras setetes demi setetes asi saya pada saat saya ada di kantor. Mengingatkan saya akan betapa lama saya tinggalkan anak saya tidak akan dapat terbayarkan hanya dengan beberapa puluh ml ASIP saya. (again) saya hanya tersenyum tanpa berusaha menjelaskan betapa bagi saya ASI sangat penting bagi saya dan anak saya. Lebih dr sekedar makanan penunjang hidup, tp sebuah bentuk kasih sayang dan tanggung jawab dr saya sang ibu kepada anak saya.
Hal tidak mainstream ketiga adalah pemakaian Cloth diaper. Saya yg dengan semangat irit dan yakin kalau membeli cloth diaper lebih irit drpd membeli pospak, apalagi klo kita punya pembantu, keukeuh mencoba segala macam clodi ke anak pertama saya dan calon anak kedua saya nanti. Hal ini juga dpt cibiran dr mana. “ih buang uang aja deh harga clodi aja kan satuya bisa seharga 40pcs pampers “ yeah Rite. My life..none your business ^_^

Hal mainstream lain adalah dalam hal financial planning. Dlu awal2 nikah, saya yg sok tau errr lebih tepatnya selalu ingin mencari tahu, browsing dan baca2 tentang financial planning. Dapat di satu website (www.qmfinacial.com) yang menjelaskan betapa ngga penting klo kita beli produk unitlink dan mengasuransikan biaya pendidikan anak kita dengan embel2 diakhir masa asuransi kita akan dapat nilai tunai. Dan sialnya saya baca blognya finplan itu right after I signed contract with one of the largest insurance provider (doh!) nyusahin aja sih!! ^_^V. akhirnya saya putuskan untuk men’cut’ asuransi saya itu dgn harapan saya tidak merugi lebih banyak lagi. Dari pembelajaran saya yang lebih dalam lagi, akhirnya saya membuat peta rancangan biaya pendidikan anak mulai dari TK-Kuliah yang dialokasikan melalui reksadana dan tabungan multi rencana (punya saya Niaga Mapan Rencana pendidikan dgn Bunga tentu saja lebih tinggi drpd tabungan konvensional). Banyak yang mikir dan menawarkan kalau unitlink adalah hal bijaksana demi untuk kelangsungan kehidupan pendidikan putra-putri kita. Tapi coba kita bayangkan kalau kita bisa sedikit saja lebih cerdas mungkin anka kita bisa mendapatkan hal yang lebih baik lagi drpada sekedar iming2 janji2 para agen asuransi tersebut. Berbekal ketidak tahuan kita ttg unitlink, dan adanya wadah investasi lain yang lebih menguntungkan dr sekedar unitlink,maka mereka para agen bisa ambil keuntungan lebih dr itu.
Again,
Hal non mainstream berikutnya dan yang saya pikir terpenting adalah ttg asuransi jiwa. Saya baca tentang betapa pentingnya kita mempunyai asuransi jiwa. Omong2, ternyata ortu (saya & mertua) tidak setuju. Karena menurut mereka tidak baik mengasuransikan jiwa (*tariknapas*) pdhl maksud saya yg diasuransikan adalah pendapatan sang Breadwinner sebagai penopang hidup ahli waris, bukan jiwa nya, maklum kadang ortu klo membicaraka jiwa masih agak sensitive. Bagi saya yg hidup pastilah suatu saat nanti mati. Kematian ngga bisa disiasati, tp kehidupan yg masih berjalan harus terus berjalan. Saya tidak ingin hidup anak saya nanti tak tentu arah sepeninggalan kami nanti (*ketok2 meja*) apabila memang saya & suami tidak berumur panjang. Saya memutuskan untuk tetap memendam keinginan membuka asuransi jiwa murni utk saya dan suami. Karena saya tidak ingin keberadaan anak kami slepas kami tidak ada akan menjadi beban sanak-saudara. Hopefully not!
Dulu, saya selalu berusaha menularkan hal baik walaupun tidak mainstream saya ke banyak org. seperti soal membeli reksadana, membeli asuransi jiwa, memakai clodi, dsb. Skrg saya tidak mau ribet memikirkan hal itu, bagi saya cukup lah saya membawa perubahan kecil ke kehidupan saya dulu, daripada berusaha mengadang2 perubahan besar yang sulit tercapai. Egois??? Mungkin. Tapi saya melewati banyak hal dalam proses pencarian ini, saya harap mereka juga mengalaminya sehingga pengetahuan yang didapat bisa lebih berarti. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar